RESUME SEMINAR OSKM ITB 2013

Nama: Aulia Nadira

NIM: 16513069

Seminar oleh Bapak Gita WIrjawan, Menteri Perdagangan Republik Indonesia periode 2011-2014

Brief history:

1. Sarjana dari Kennedy School

2. Master dari Harvard Business School

3. Ketua Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia

Menurut Pak Gita Wirjawan, ekonomi Indonesia haruslah mengerti kepentingan dan kebutuhan rakyat sembari membangun kepentingan geopolitik negara ini. Untuk mencapai keadaan ekonomi tersebut, Pak Gita Wirjawan menekankan sebuah kutipan “If you want something, then you will get it. It just depends on how badly we want it”. Beliau bercerita bahwa negara kita ini di setiap generasinya pasti mengalami suatu kontra permasalahan. Pada era Presiden Soekarno yang dihadapi adalah kontra komunisme. Pada era Presiden Habibie, Megawati, Gusdur, dan SBY yang dihadapi adalah kontra korupsi. Tidak bisa relevan perkembangan geopolitik dan ekonomi tanpa adanya kapasitas dari bangsa ini. Bangsa ini harus dapat menguatkan moral rakyatnya. Diperlukan unsur demokrasi, pluralisme, dan kesejahteraan dan pemerataan kepentingan rakyat untuk dapat dipresentasikan ke komunitas internasional. Ekonomi di G20 didominasi oleh negara Anglo-Saxon, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. Jumlah kekayaan negara-negara tersebut berkisar di angka 70 triliun dolar. Kekayaan negara-negara tersebut dua kali lebih besar daripada Saudi Arabia. Pak Gita Wirjawan berkata bahwa rakyat Indonesia harus mengedepankan pluralisme. Rakyat juga harus menjaga stabilitas ekonomi dan politik agar lebih relevan. Karena itu, negara Indonesiaini butuh pemimpin yang berlandaskan kearifan lokal. Pemimpin ini haruslah pemuda yang memiliki sifat aktif, inisiatif, dan proaktif. Beliau mengambil contoh daerah Gangnam, sebuah daerah di Korea Selatan. Empat kunci kesuksesan daerah Gangnam ini adalah kemajuan-kemajuan di bidang teknologi, demokrasi, budaya, dan ekonomi. Dari contoh tersebut, idapat kita lihat bahwa negara-negara di Asia sangatlah dinamis. Dominasi ekonomi Amerika sudah terkikis oleh bangsa Tionghoa. Kekayaan kedua negara tersebut berjumlah sekitar 8 triliun dolar. Sedangkan Indonesia hanya memiliki kekayaan sebesar 1 triliun dolar. Jika pertumbuhan ekonomi di Indonesia dapat dipertahankan di kisaran 6% per tahun, maka dalam 20 tahun ke depan kita akan memilik kekayaan sebesar 60 triliun dolar atau 600 ribu triliun rupiah. Persen konsumsi kumulatif di Indonesia adalah sebesar 60 %atau 360 ribu triliun rupiah. Masalah yang ada di negara Indonesia kita ini adalah: we are not filled with red and white. “Murah kenyang itu salah, kita harus memiliki rasa bangga berbangsa” kutip Pak Gita Wirjawan. “Why cant we? The answer is we should not reinvent things”. Kembali mengambil contoh negara Korea Selatan. Pada tahun 1920, penduduknya bodoh dan malas. Pada tahun 1950, mereka merdeka. Lalu munculah Park Jung Hi sebagai perwira industri. Dasar pembangunanya adalah reformasi agraria, insustrialisasi, dan dibversifikasi. Contoh brand yang terkenal dari Asia adalah Samsung dan LG. Tentunya kemajuan ini didukung juga oleh sektor fiskal dan nonfiskal. Mereka juga melakukan eksportasi pertanian, manufaktur, dan budaya Begitupun Indonesia harus dapat melakukan eksplorasi budaya. Kita harus dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerjadi setiap unit hingga sebesar 60% agar dapat sustain pertumbuhan ekonomi sebesar 7%. Atau resikonya, kita tidak akan bisa keluar dari middle income trap. Hal itu terjadi karena kita tidak dapat memproduksi produk bernilai tambah. Yang dibutuhkan negara ini adalah teknologi, demokrasi, pluralisme, dan budaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s