Resume tentang Kolaborasi

Nama : Dian Aris Sandi
NIM : 16413056
Fakultas : FTTM

KOLABORASI
Kolaborasi dapat diartikan sebagai suatu kerjasama antar berbagai individu yang saling berkontribusi dengan kelebihan masing-masing untuk mencapai tujuan bersama. Kolaborasi merupakan upaya untuk mengefektifkan waktu, usaha, dan biaya untuk menyelesaikan suatu tugas, masalah atau problem teretentu. Dalam prosesnya tentu ada saja hambatan dalam berkolaborasi. Seperti, kepentingan individu, gengsi, opini yang berbeda, dan masih banyak lagi.
Salah satu bukti konkret kolaborasi yang sudah dilakukan kami, ITB angkatan 2013, adalah kegiatan pembentukan huruf manusia. Seluruh mahasiswa yang jumlahnya tak kurang dari 3600 orang harus diatur dan dikondisikan supaya bisa membentuk tulisan raksasa “#untukINDONESIA” di kompleks lapangan Sarana Olahraga Ganesha (Saraga). Kami mahasiswa baru angkatan 2013 sudah mencoba menerapkan metode kolaborasi. Mekanismenya kurang lebih sebagai berikut: Dari sekitar 3600 orang yang sudah terbagi menjadi 180 kelompok dibentuk kembali 15 kelompok besar yang masing-masing terdiri atas 12 kelompok. Masing-masing kelompok besar akan dikondisikan untuk membentuk masing-masing huruf dari kata “#untukINDONESIA”. Masing-masing kelompok besar akan dikomandoi oleh seorang koordinator yang bertanggung jawab dalam pembuatan huruf. Koordinator akan dibantu oleh PJ dari masing-masing kelompok kecil. Dengan kolaborasi yang baik antar semua pihak yang terlibat, akhirnya kami bisa membentuk kata “#untukINDONESIA” dengan sempurna walaupun bisa dikatakan masih belum rapi. Berikut ini aspek-aspek dalam kolaborasi
a) Team Building
Ide dasar dimana setiap individu dapat membentuk suatu tim dan mampu bekerjasama satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama.
b) Sejarah Pergerakan
Sejarah pergerakan tim yang sudah terbentuk secara umum.
c) Manajemen konflik
Setelah melakukan kolaborasi, tak jarang kita akan menemukan berbagai masalah terkait teknis yang sering disebut konflik. Salah satu konflik dalam usaha pembentukan kata “#untukINDONESIA” misalnya adalah tidak adanya pengertian antara para Penanggung Jawab (PJ) dengan anggotanya.
Ada 3 pendekatan yang dilakukan dalam memanajemen konflik yaitu:
1. Pendekatan Penawaran
2. Pendekatan Birokratis
3. Pendekatan Sistem
Dalam kehidupan manusia, pastilah kita sering mengalami masalah. Entah manusia dengan Tuhan, manusia dengan dirinya sendiri, dan manusia dengan manusia. Nah, untuk menciptakan kehidupan harmonis pastilah kita sebagai manusia berusaha untuk menyelesaikan konflik yang terjadi dalam kehidupan mereka. Namun penyelesaian konflik dibagi menjadi 3, yaitu:
1. Win-Win Solution: penyelesaian konflik semacam ini merupakan penyelesaian terbaik, karena kedua belah pihak yang berselisih mendapatkan keuntungannya masing-masing, seperti contoh adalah Bank Syariah, dimana nasabah dapat menyelesaikan masalah mereka dengan bantuan pihak bank.
2. Win-Lose Solution: penyelesaian konflik yang satu ini merupakan penyelesaian yang sangat tidak menguntungkan bagi satu pihak karena hanya menguntungkan satu pihak, seperti perjanjian Linggarjati yang dilakukan untuk mengatasi konflik saat agresi militer Belanda, dan perjanjian ini sangat merugikan Indonesia.
3. Lose-Lose Solution: penyelesaian konflik ini bisa dibilang penyelesaian yang tidak konstruktif karena kedua belah pihak tidak diuntungkan karena kedatangan pihak ketiga, dan biasanya pihak ketiga bertindak sebagai penengah. Contohnya saat kita berebut makanan dengan saudara, kemudian orang tua kita menengahi dengan mengambil makanan tersebut, sehingga kedua saudara tersebut tidak mendapat makanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s