Resume Seminar OSKM 2013

Nama : Dyan Noviera Putri

NIM : 19913043

 

Seminar oleh Bapak Gita Wiryawan, Menteri Perdagangan RI periode 2011-2014 dan Ketua Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia.Bapak Gita berkata, semangat mahasiswa kental dengan kearifan lokal, yang merupakan misi dari OSKM ITB 2013. Beberapa hari yang lalu kita baru saja merayakan Hari Kemerdekaan RI, tapi menurut Bapak Gita, kemerdekaan bukan hanya 17 Agustus tapi juga untuk diri sendiri atas apapun yang kita bayangkan. Kemudian Bapak Gita membahas mengenai perekonomian Indonesia, perekonomian Indonesia yang menempati posisi terbesar nomor 15 di dunia membutuhkan pemimpin yang mengerti tentang kepentingan rakyatnya.Bapak Gita juga bercerita tentang sebuah kejuaraan bulutangkis, ketika itu Bapak Gita menghampiri seorang atlet bulutangkis yang hendak bertanding dan berkata, “If you want it, you will get it. It depends on how badly you want it.”.Setelah itu beliau berkata bahwa sebelum menjadi Presiden pertama RI, Bung Karno sudah punya visi Indonesia akan seperti apa ke depannya. Bung Karno adalah seorang Presiden yang kontra komunisme, sedangkan Habibie, Gus Dur, dan SBY kontra komunisme korupsi. Pemimpin bangsa pada hakikatnya harus mempunyai unsur demokrasi dan harus menyampaikan kepada rakyatnya. Perekonomian Indonesia membutuhkan pemimpin muda dengan kearifan lokal. Bangsa yang pemudanya tidak punya kearifan lokal adalah bangsa yang kehilangan jati diri. Pemuda harus aktif, inisiatif, dan proaktif. Beliau mengambil contoh dari daerah Gangnam, sebuah daerah di Korea Selatan, empat kunci kesuksesan daerah ini adalah kemajuan ekonomi, kesinambungan demokrasi, kekayaan budaya, dan kemahiran teknologi.Di dunia ini terdapat kurang lebih 7 milyar penduduk, 33% kristen, 23,5% islam, 16% hindu, dan 7% buddha. Perekonomian islam hanya 9% dari keseluruhan. Sedangkan perekonomian Indonesia adalah sebesar 1 triliun dollar.Saat ini, bahkan demokrasi ekonomi AS pun mulai terkikis oleh Tiongkok. Tiongkok menawarkan produk yang murah dan memuaskan. Tetapi, budaya “murah kenyang” ini harus diganti dengan budaya “bangga berbangsa” atau lebih dikenal dengan memakai produk-produk dalam negeri. Menurut Bapak Gita, lulusan ITB bisa membuat apa saja yang dibutuhkan oleh orang Indonesia.Bapak Gita menyampaikan bahwa pada tahub 1920, Korea Selatan dianggap “lazy & stupid”. Ketika Korea Selatan merdeka pada tajin 1950, mereka mengembangkan industrial soldiers. 20-39 tahun kemudian mereka mencapai kesuksesan sampai sekarang, produk-produknya antara lain Hyundai, Samsung, dan LG. Sekarang mereka tidak hanya ekspor produk tetapi juga budaya.Menurut Bapak Gita, kita harus meningkatkan 7% perekonomian Indonesia, tantangan yang menghadang menuju 2030 adalah kita perlu meningkatkan 60% produktivitas kerja. Jika tidak, kita bukan hanya tidak bisa meningkatkan 7% perekonomian, tetapi juga tidak bisa keluar dari middle income trap. Indonesia saat ini berada pada posisi 4000 dollar, negara lain ada yang 10.000-12.000 dollar.Pertumbuhan perekonomian Indonesia tidak hanya di Jakarta, di Jakarta hanya 20%nya saja. Perekonomian di Bandung, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya lebih besar. Realisasi ekonomi di luar Pulau Jawa juga sekarang lebih besar, pada tahun 2008 sebesar 18%, 2010 sebesar 33%, 2011 sebesar 41%, dan 2012 sebesar 69%. Kita harus meningkatkan penanaman modal di luar Pulau Jawa dengan cara industrialisasi, hilirisasi, dan tidak bisa tanpa kemajuan teknologi. Indonesia harus bisa jadi knowledge economy, jangan hanya menjadi natural resource economy. Ruang fiskal Indonesia sudah jauh lebih besar, dari 15 tahun lalu minimal naik 20%.Kita harus bisa bersaing, berdemokrasi, berteknologi, dan memperkaya kebudayaan kita. Indonesia dengan tingkat perekonomian 1 triliun dolar (43% dari perekonomian ASEAN) harus bisa bersaing dengan Tiongkok (8 triliun dollar) dan India (2,5 triliun dollar). Indonesia butuh pemimpin yang bisa menjawab tantangan zaman dan permintaan rakyat yang bermacam-macam.ITB akan terus menjadi pabrik pemimpin-pemimpin yang berkualitas, sebagai contoh Ir. Soekarno dan B.J. Habibie. Bapak Gita berpesan, “We have to be nationalistic, but at the same time internationalistic.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s